Tampilkan postingan dengan label BUDAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUDAYA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Agustus 2011

MUTIARA PAPUA





Mutiara, potensi yang  tersembunyi dalam warna gelap dan hitamku

Sewaktu saya berjalan bersama kakak yang selalu mengenakan kacamata sehingga terlihat seperti superboy itu mengatakan kepadaku, ” kamu bisa maju dan berusaha entah itu dalam berbisnis atau apa saja tetapi yang membuat kamu terhalang adalah kulitmu. Kulit itu membuat orang tidak percaya karena kulit kamu itu identik dengan ketidakbisaan dan tidak bisa dipercaya. Kaka bisa maju menjadi kulitmu tetapi kamu harus belajar sendiri supaya ada orang Papua yang mampu dan bisa dipercaya”. Kata-katanya seperti menghinaku tetapi saya balik bertanya pada fakta yang terjadi dan itu adalah realita. Ia memberitahuku lagi, ” kamu punya potensi, maka itu belajar teruslah sampai kamu bisa dan banyak orang bisa mempercayaimu”. Dengan memberikan ilustrasi, ” hitam-hitam Kereta Api banyak yang menunggu dari berbagai kalangan karena Kereta Api telah mencuri kepercayaan semua orang dengan mengangkut dan mengantar penumpangnya sampai kepada tujuan mereka, maka kamu juga bisa membawah orang-orang kepada tujuan mereka masing-masing, saat itulah kepercayaan itu berdatangan”.

Kebanyakan orang selalu memandang dan mengutamakan penampilan. Ketika mutiara menampilkan yang tampak atau bagian yang kelihatan darinya, kadang menjadi bagian yang tercemohkan, diabaikan bahkan tidak diperdulikan. Coba aja kalau yang tertampil didepan itu putih kekuning-kuningan yang berkilauan yang memancarkan cahayanya. Pasti mata yang dalampun melotot keluar untuk memandangnya. Tapi semoga saja Aura bisa berbicara jujur dengan pancaran sinarnya dan berpihak kepada siapa ia harus meneranginya.

Saat saya sekolah di SMK Neg. 1 Batubulan di Bali, begitu banyak respon atas butanya pandangan mereka oleh realitas yang hanya terlihat oleh kasat mata teman-temanku. Mereka tidak melihat potensi mutiaraku yang sedang saya perjuangkan untuk dikeluarkan. Dan sedikit dari pucuk potensiku yang sudah ku perlihatkan melalui juara di kelasku. Tetapi mereka mempertebal selubung hitam yang menutupku dengan hinaan, cemoh bahkan mereka meremehkanku bahkan juga dari bibir penghinaan mereka terucap kata-kata menyuruhku pulang saja ke Papua. Tetapi dalam keadaan seperti itu kata-kata pembangkit urat nadi perjuanganku selalu keluar memberitahuku untuk tetap berjuang. Entah siapa yang membisikkan, teriakan itu bangkit terus saat kondisi yang kritis dan melemah sekalipun.

Hal-hal itu adalah bagaimana dunia di sekitar kita yang selalu menghalangi dalam perjuangan mengeluarkan potensi itu. Tetapi berbagai kesadaran selalu muncul bahwa tantangan bukanlah halangan yang merintangi perjalanan panjang menuju pembebasan potensi dari kebodohan, ketiadaan bahkan kemelaratan dan jalan yang buntu.

Kata-kata yang selalu terucap dari relung hati untuk memotivasi diriku adalah, “ hitam bukan berarti kegelapan yang harus tengelam di antara putih-putih tetapi dalam hitamnya mutiara tersembunyi potensi tak ternilai yang bermakna kekal”. Kalimat ini selalu membangkitkan nyali dan semangat juang dari berbagai respon atas betapa gelapnya mutiara diriku.

Kawan-kawan sekelasku, mereka tidak mengerti apa fungsi warna hitam dalam penerapannya. Padahal di kelas satu kita sudah mempelajarinya. Warna hitam selalu memberikan penekanan atau volume pada sebuah karya seni supaya karya terkesan kedalaman dan berisi. Sebenarnya dalam kelas itu, saya memberikan volume dan isi namun keberadaanku adalah isi yang tidak dianggap.

Tuhan yang Mahakuasa datang ke dunia dari surga yang abadi hanya untuk menyelamatkan mutiara kekekalan yang tersembunyi dibalik hitamnya dosa yang menyelubungi manusia. Kalau saja Tuhan melihat dosa manusia yang hitam pekat, untuk apa datang membasuh kotoran dosa dengan darah kudus yang tanpa noda dengan kematianNya di salib?. Itu semua hanya karena ada nilai, makna dan rupa kekekalan Tuhan di dalam diri kita manusia sehinga potensi kekekalan ini perlu diselamatkan.

Dalam lambang-lambang warna, warna hitam memberi pengertian bahwa hitam melambangkan kematian, kegelapan, kesungghuan, kekal dan berat. Artinya mati untuk menunaskan benih kekal dan kegelapan artinya benih yang kita tanam kadangkala tidak memperlihatkan tunasnya tapi dengan berjalannya waktu hitam selalu membuktikan dirinya sungguh-sungguh kekal dan akan menghasilkan sesuatu yang berbobot, berisi padat atau berat.

Melalui semua selubung yang berlapis menumpuk tidak menciutkan nyali juang hidupku tetapi hal-hal tersebut memperbesar mutiara karakter hidup melalui nilai-nilai kesabaran, ketekunan, kesetiaan dan fokus pada tujuan serta kasih dalam persahabatan yang ku jalin dengan sahabat-sahabatku dalam penghinaan mereka yang semestinya menjadi penghancur dan perusak mutiaraku, tetapi dalamnya itu kutemukan mutiara menjadi semakin besar yang bermakna dan semua orang tunduk tak berbicara ketika terlihat bukti dirinya adalah mutiara sejati.

Mutiara sesuatu yang gelap dan dipandang remeh ketika potensi, kapatitas dan lambang kemewahan itu diselubungi hitam yang gelap. Karena hitam mutiara diabaikan dan tidak dianggap. Dianggap representasi dari kegelapan, dianggap sampah tetapi sesungguhnya adalah mengandung nilai, fungsi dan makna yang berharga dan abadi bagi yang memilikinya.

Ellya alexander tebay

Peranan Yang Terhilang, Potensipun Terhilang HILANGLAH GENERASI BERBUDAYA



Bila menyimak apa yang terjadi diatas muka bumi ini, maka manusia silih berganti datang dan pergi diundang oleh cinta tetapi juga mereka adalah manusia-mnusia yang memang sudah direncanakan pencipta untuk menghuni dan menguasai bumi. Manusia yang selalu terlahir sudah dikaruniai suatu potensi masing-masing. Hal itu dapat dilihat dari berbagai macam potensi yang ada dan dimiliki manusia di atas muka bumi melalui beragam karya-karya ciptanya yang tersebar.
Pengarunian potensi manusia oleh Sang khalik harus menjadi perhatian utama. Yang baru terlahir harus menjadi perhatian bagi yang lahir terdahulu. Disinilah peran orang tua memainkan peranan dan fungsi orang tuanya sebelum maupun sesudah anak itu bersekolah. Tugas orang tua tidak semata hanya membesarkan tetapi bagaimana mendidik anak memperlihatkan potensi yang dimilikinya lalu bagaimana cara mengembangkannya. Karena pendidikan yang ada di rumah adalah pendidikan yang paling dasar dan fundamental untuk pembentukan otak maupun mental karakternya. Tetapi faktanya sangat disayangkan peranan orang tua di Papua tidak semaksimal berperan dalam mendidik anak-anak mereka untuk dipersiapkan menjadi anak yang hebat dan pintar. Hal ini diakibatkan oleh paling termiskinnya pendidikan orang tua di Papua sehingga mengalami kesulitan mendidik anak-anaknya secara maksimal.
Kurang adanya peranan, dukungan dan perhatian dari orang-orang yang berkompoten dalam mempersiapkan generasi muda yang berkompotensi ini maka kemudian dengan sendirinya tercipta proses pembiaran tanpa disengaja maupun disengaja akibat ketidaktauan dan kebodahan mengakibatkan penemuan jati diri anak terlantar ini kearah yang negatif. Karena terbiarkan dan terabaikannya maka matilah potensi mereka karena pergaulan mereka yang diisi dengan kenakalan, obat-obatan terlarang dan minuman-minuman keras yang ada di Papua, yang merajarela baik karena sistem yamg mengatur, kelompok, maupun karena tidak adanya pembentukan oleh pendidikan yang memadai di rumah.
Begitupun juga kurangnya pendidik-pendidik yang sesuai bidangnya masing-masing disekolah-sekolah yang ada di Papua membuat anak-anak tidak menemukan diri mereka disana. Yang ada hanya pendidikan yang bersifat copy paste, bukan pendidikan yang dikembangkan berdasarkan dan dilatarbelakangi kapabilitas atau suatu kecakapan yang dimiliki seseorang yang harus dididik. Disinilah peran Dinas Pendidikan memainkan perannya untuk melihat dan menempatkan guru-guru yang tepat pada tempat yang tepat. Dan mencari tenaga guru-guru dan menyekolahkan guru-guru yang bidangnya belum ada. Dengan demikian maka materi yang tepat akan tersalur dan tersampaikan pada orang atau siswa didik yang tepat sehingga terangkullah potensi yang dimilikinya, bila peranan ini dijalankan maka tidak akan terjadi lost potention yang akhirnya bermuara pada lost people dan lost culture seperti yang sedang terjadi di Papua.
Bagaimana dinas mempersiapkan guru seni budaya, padahal Papua yang kental dengan seni dan budayaanya, namun tidak ada materi seni budaya yang dapat diajarkan disekolah-sekolah. Di setiap sekolah tidak ada guru-guru yang berkompoten untuk mengajarkan seni budaya sehingga mengalami kekosongan guru-guru tersebut, padahal dalam kurikulum KTSP 2006 mengatur bahwa guru Seni Budaya harus ada mata pelajaran seni rupa, seni musik, seni tari, dan seni teater. Berarti disetiap sekolah guru pengajar seni itu seharusnya ada empat orang guru yang mengajar dengan bidangnya masing-masing.
Melihat fakta di lapangan tidak ada satu orang guru seni budaya di Nabire bahkan di Papua maupun Indonesia secara menyeluruh agak sulit ditemukannya. Setiap program yang selalu dikeluarkan pemerintah terlihat bahwa itu hanya formalitas tanpa mempersiapkan tenaga-tenaganya yang akan bekerja di lapangan. Padahal devisa yang dihasilkan negara melalui seni budaya dan pariwisata adalah urutan kedua setelah Minyak.
Perhatian terhadap seni budaya yang memberi sumbangsi besar bagi bangsa menjadi terabaikan dan terluput dari perhatian. Hanya dijadikan sapi perahan yang hasilnya di ambil atau lebih tepat lagi habis manis sepak dibuang tanpa perhatian khusus. Inilah mental bangsa kita yang mengabaikan hasil seni budaya dan produk-produk dalam negri yang lebih bersifat konsumtif.
Sistem Rekrutmen CPNS
Yang harus menjadi topik pertanyaan adalah apakah perekrutan CPNS formasi 2008 ini, sesuai dengan kebutuhan atau asal nutupi hutan formasi 2008 agar secara formalitas sudah pernah dilakukan. Dan apakah ada kerjasama antara dinas-dinas terkait lainnya untuk memintah keterangan akan kebutuhan data pegawai yang harus dibutuhkan dilapangan sehingga data itu bisa diformasikan dalam pengangkatan ini. Dari apa yang sudah diformasikan pada formasi 2008 yang sedang diadakan 2009 ini, jelas terlihat bahwa tidak ada koordinasi antara dinas BKD dengan dinas lain yang membutuhkan tenaga kerja.
Formasi tidak berdasarkan kebutuhan lapangan karena kebutuhan daerah lebih dari yang diformasikan. Dapat disimak bahwa di lapangan banyak sekolah yang haus akan hadirnya guru-guru bidang studi seni budaya, komputer, olahraga, matematika, fisika, kimiah dan masih banyak lagi kebutuhan pegawai di kantor-kantor yang lainnya. Karena yang mengisi bidang-bidang tersebut diatas adalah guru yang bukan di bidang studi tersebut. Cobalah sebelum perekrutan dan memformasikan ada bentuk sosialisasi dengan dinas-dinas lalu dari dinas disampaika kepada kepala-kepala sekolah dan kantor dibawahnya sehingga perekrutan ini bisa mengisi tempat dan posisi yang masih kosong tersebut.
Kekosongan sesuai bidang-bidang di atas terjadi bukan karena memang tidak adanya orang-orang tersebut tetapi sistem perekrutan yang tidak pernah sesuai dengan sistem dan aturan. Karena anak-anak muda asli Papua lulusan dari luar pulau maupun lulusan Papua sendiri yang sedang jobless atau menganggur sangat banyak. Mereka diterlantarkan oleh sistem perekrutan yang tidak benar dan tidak pernah berpihak pada orang asli Papua. Orang Papua hanyalah sampah berharga yang terlantar dan terabaikan yang sedang mati perlahan-lahan secara bertumpuk-tumpuk di negrinya selain kekayaan mereka yang sedang dirampas. Selain itu perekrutan yang tidak memihak pada orang papua dengan memberikan prioritas dari sekian presentase yang direkrut menjadi CPNS.
Maka kami berharap semoga tidak ada permainan kotor yang merugikan banyak pihak demi kepentingan sesaat dan kepentingan segelincir orang yang membuat matinya orang-orang berpotensi. Berikan kesempatan bagi orangyang berkapabilitas untuk merealisasikan potensinya di lapangan sesuai bidang mereka. Harapan banyak orang akan keadilan, mendapatkan kesempatan yang sama, perlakuan yang adil bisa terwujud pada formasi 2008 ini. Salam.
ellya alexander tebay
Penulis adalah pemerhati dinamika kehidupan seni, sosial budaya dan pariwisata.

PORNOGRAPY, Apakah Dilahirkan atau Diciptakan?


 Haaaaaaa.....porno atau pornogrphy? wa gelih ku mendengarnya. Tapi ini sangat berbahaya bagi generasi kita maka dengan serius harus ditanggapi dan dibicarakan. karena pornography itu sebuah produk bukan sesuatu yang dilahirkan lalu sejak lahir itu pula dibiarkan untuk berkembang biak dan meperanakannya lagi.

Bila mengingat kembali penciptaan awal, Tuhan menciptakan Adam dan Hawa sebagai manusia pertama, diceritakan mereka bukan telanjang atau penjunjung porno alias pornography tetapi mereka kedapatan telanjang di taman yang indah bernama Firdaus, itu pun buah pikir setan yang berkamuflase jadi ular dengan menawarkan pohon pengetahuan kehidupan yang buahnya boleh dimakan dan tidak. Setelah mereka makan buah itu maka saat itulah manusia itu jatuh tertipu dan jatuh dalam dosa.

Karena ketakutan maka akhirnya kedua manusia awal itu bersembunyi dibalik semak ketika Tuhan memanggil mereka. Disaat pencipta mereka memanggil, kedua manusian awal itu diam saja karena malu didapati telanjang oleh pencipta mereka. Akhirnya mereka salahkan setan yang berkamuflase menjadi ular yang mengoda itu dan selanjutnya mereka saling tuduh menuduh dan saling mempersalahkan satu dengan yang lainnya.

Maka tidak salah apabila setiap produk hukum yang dibuat hanya untuk saling mempersalahkan satu dengan yang lainya. Bahkan juga untuk menghukum, mendiskriminasi sampai akhirnya mengisolasikan manusia lain. Dan melalui hokum pornografi menggangap manusia lain itu tidak beradap. Itulah salah satu kamuflase bisa berbahaya dari ular tersebut yang menjelama pada jaman yang katanya beradab ini.

Jadi apakah porno atau pornography itu diajarkan, diwariskan dan diturunkan? Atau apakah Tuhan menciptakan manusia itu bersama ketelanjangan sebagai keindahan yang harus dipamerkan dan ditontongkan sebagai satu bentuk karya?. Pencipta alam semesta dan manusia tidak pernah menciptakan manusia itu telanjang bahkan orang tua mana sih yang akan membiarkan anak hidup dalam ketelanjangan?. Ketelanjangan adalah buahian dari keinginan, keserakaan dan hawa nafsu kedagingan.

Mari kita berkarya dengan cara yang benar karena keindahan tidak hanya bersembunyi didalam alat kelamin yang di tunjukkan melalui karya-karya itu . keindahan yang terletak dialam semesta ini sangat luas dan banyak. mari kita berkarya berdasarkan nilai-nilai estetis yang dikoridor dan diilhami dengan nilai moral, etika dan kebenaran.

Masalah orang Bali dan Papua yang telanjang itu bukan produk tetapi karena keadaan jaman dahulu. buktinya orang Bali sekarang bukan telanjang lagi tetapi semua berpakaian. Tetapi lain hal lagi dengan keberadaan ketelanjangan orang Papua sekarang adalah sebuah produk Indonesia atas ketidak seriusan membangun Papua yang mana bukan hanya manusia Papua yang telanjang tetapi semua lini kehidupan orang Papua adalah dibuat telanjang oleh sistem Indonesia.

Maka manusia bisa menjadikan semua yang telah terjadi itu sebagai redaman pengalaman estetik maupun nonestetik. Maka setiap orang khususnya pribadi saya tidak akan berkamuflase menjadi apapun dan menjadi siapapun untuk menciptakan karya seni sebagai pencipta karya seni rupa. Karena siapun yang berkamuflase menjadi ular berlida cabang itu, pasti manusia yang licik yang menjatuhan derajat manusia lainnya. Dan merenggut hak-hak privasi kaum yang termarginalkan oleh suatu aturan ataupun produk-produk hukum yang belakangan ini marak.

ellya alexander tebay

Penulis adalah pemerhati dinamika kehidupan seni, sosial budaya dan pariwisata.